iklan

BIG PROMO

PASANG IKLAN

INGIN BERIKLAN DISINI? CARANYA GAMPANG,

, KLIK DISINI!!!!

BIG PROMO

MAKE YOUR DOLLARS HERE!!!!

MOHON BANTUAN ANDA SEMUA

PENTING!!!!SEBELUM MEMBACA,,,!!!!!COBA !!!!!!KLIK DISINI!!!!!!!!!!



Kamis, 27 Juni 2013

Pengaruh Islam Terhadap Kebudayaan Di Nusantara



   A.      TRADISI ISLAM NUSANTARA MEMPENGARUHI BUDAYA LOKAL NUSANTARA
Tradisi adalah adat kebiasaan yang turun-temurun dari nenek moyang yang masih di jalankan masyarakat. Adapun tradisi islam adalah suatu adat kebiasaan yang di dalamnya terdapat nilai-nilai agama Islam. Tidak dapat dipungkiri bahwa seni dan kebudayaan Islam yang berkembang di seluruh kepulauan Indonesia banyak di pengaruhi oleh kebudayaan-kebudayaan yang sudah lama berada di kesukuan tersebut. Selain itu, kebudayaan Islam di Indonesia berkembang setelah terjadi akulturasi (percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling mempengaruhi) dengan kebudayaan saat itu. Contoh tradisi Islam nusantara yang mempengaruhi budaya lokal nusantara :
1.       Adat Makeuta dari Sumatra
Adat Makeuta adalah adat yang berlaku di kalangan masyarakat yang merupakan hasil perpaduan antara adat lokal yang telah berlaku sejak nenek moyang masyarakat Aceh dengan adat yang di dasari nilai-nilai agama Islam.
2.       Kesenian Wayang Kulit di Jawa
Kesenian Wayang Kulit ini pertama kali di lakukan oleh Sunan Kalijaga , yang merupakan perpaduan antara kisah wayang yang menceritakan tentang tokoh para dewa  dengan nilai-nilai agama Islam.
3.       Gamelan Sekaten
Gamelan Jawa pertama kali di bawakan oleh Sunan Bonang dalam rangka menyebarkan agama Islam untuk menyesuaikan diri dengan corak kebudayaan Jawa yang menggemari wayang dan musik gamelan. Oleh karena itu, Sunan Bonang menciptakan gending-gending  Jawa yang memiliki nilai-nilai Islam. Setiap bait lagu diselingi ucapan dua kalimat syahadat, sehingga musik gamelan yang mengiringinya dikenal dengan istilah sekaten.
4.       Dan lain-lain.

   B.      TRADISI ISLAM DI NUSANTARA MEWARNAI BUDAYA LOKAL NUSANTARA
1.      Pengertian Seni Budaya dan Tradisi Lokal Yang Bernafaskan Islam
Seni adalah penggunaan imajinasi manusia secara kreatif untuk menikmati kehidupan. Oleh karena itu, bentuk kesenian dapat muncul melalui benda-benda yang digunakan sehari-hari, serta dapat pula melalui benda-benda khusus yang hanya digunakan untuk kepentingan tertentu seperti ritual atau upacara. Seni juga dapat di definisikan sebagai hasil ciptaan manusia yang mengandung unsur indah, lembut, halus serta mempesona.
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta , yaitu “buddhayah”. Yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Sedangkan tradisi lokal yang bernafaskan Islam adalah adat istiadat atau kebiasaan daerah tertentu yang di dalamnya terdapat nilai-nilai agama Islam.

2.       Seni Budaya Yang Bernafaskan Islam
Kesenian termasuk dalam unsur kebudayaan. Sebab, perwujudan dari kebudayaan tidak terlepas dari hasil olah pikir dan perilaku manusia lewat bahasa, sarana kehidupan dan organisasi sosial.  Kesenian adalah salah satu media yang paling mudah diterima dalam penyebaran agama Islam. Salah satu buktinya adalah menyebarnya agama Islam dengan menggunakan wayang kulit dan gamelan oleh Suna Kalijaga. Diantara seni budaya nusantara yang telah mendapatkan pengaruh dari ajaran Islam adalah :
a.       Wayang
Dalam bahasa berarti “ayang-ayang” atau bayangan. Karena yang terlihat adalah bayangannya dalam kelir (tabir kain putih sebagai gelanggang permainan wayang). Bisa juga diberi penjelasan wayang adalah pertunjukkan yang disajikan dalam berbagai bentuk, terutama yang mengandung unsur pelajaran (wejangan). Pertunjukkan ini diiringi dengan teratur oleh seperangkat gamelan. Cerita dari wayang ini diilhami dari Kitab Ramayana dan Mahabrata. Tentunya, para ulama mengubahnya menjadi cerita-cerita keIslaman, sehingga tidak ada unsur kemusyrikan didalamnya.
b.      Qasidah
Qasidah artinya suatu jenis seni suara yang menampilkan nasehat-nasehat keislaman. Dalam lagu dan syairnya banyak mengandung dakwah Islamiyah yang berupa nasehat-nasehat, shalawat kepada Nabi dan do’a-do’a. Biasanya qasidah diiringi dengan musik rebana. Kejadian pertama kali menggunakan musik rebana adalah ketika Rasulullah SAW di sambut dengan meriah di Madinah.
c.       Tari Zapin
Tari Zapin adalah sebuah tarian yang mengiringi musik qasidah dan gambus. Tari Zapin diperagakan dengan gerak tubuh yang indah dan lincah. Musik yang mengiringinya berirama padang pasir atau daerah timur tengah. Tari Zapin biasa di pentaskan pada upacara atau perayaan tertentu, misalnya : khitanan, perbikahan dan peringatan hari besar Islam lainnya.
d.      Seni Bangunan
Peninggalan Islam yang berupa fisik adalah arsitektur bangunan masjid, seni ukir dan seni kaligrafi. Masjid yang dibangun di Indonesia tidak serta merta melambangkan keislaman. Arsitektur yang digunakan adalah perpaduan antara Islam dan Hindu atau Jawa. Contoh arsitektur bangunan adalah Masjid Agung Demak, dan lain-lain.

3.       Tradisi Lokal Yang Bernafaskan Islam
Banyak tradisi-tradisi lokal bangsa Indonesia yang sudah mengandung nilai-nilai keislaman. Diantara tradisi-tradisi tersebut adalah :
a.       Mauludan
Setiap bulan Rabi’ul awwal tahun hijriyah, sebagian besar umat Islam Indonesia menyelenggarakan acara mauludan. Maksud dari acara tersebut adalah untuk mengenang hari kelahiran Rasulullah SAW. Dalam acara tersebut diadakan pembacaan sejarah hidup Nabi Muhammad SAW melalui Kitab Al-Barzanji atau Situddurar. Puncak acara biasanya terjadi pada tanggal 12 Rabi’ul awwal, dimana pada tanggal tersebut Rasulullah SAW dilahirkan. Di Aceh, tradisi ini sebagai pengganti upeti atau pajak bagi kerajaan Turki, karena Kerajaan Aceh memiliki hubungan diplomasi yang baik dengan Turki.
b.      Grebek
Grebek adalah tradisi untuk mengiringi para raja atau pembesar karajaan. Grebek pertama kali diselenggarakan oleh Keraton Yogyakarta oleh Sultan Hamengkubuwono ke-1. Grebek dilaksanakan saat Sultan memiliki hajat dalem berupa menikahkan putra mahkotanya. Grebek di Yogyakarta di selenggarakan setiap 3 tahun sekali, yaitu : pertama grebek pasa, syawal diadakan setiap tanggal 1 Syawal bertujuan untuk menghormati Bulan Ramadhan dan Lailatul Qadr, kedua grebek besar, diadakan setiap tanggal 10 dzulhijjah untuk merayakan hari raya kurban dan ketiga grebek maulud setiap tanggal 12 Rabiul awwal untuk memperingati hari Maulid Nabi Muhammad saw. Selain kota Yogyakarta, yang menyelenggarakan grebek adalah kota Solo, Cirebon dan Demak.

c.       Sekaten
Sekaten adalah tradisi membunyikan musik gamelan milik Keraton. Pertama kali terjadi di Pulau Jawa. Tradisi ini sebagai sarana penyebaran agama Islam yang pada mulanya dilakukan oleh Sunan Bonang. Dahulu, setiap kali Sunan Bonang membunyikan gamelan diselingi dengan lagu-lagu yang berisi tentang agama Islam serta setiap pergantian pukulan gamelan diselingi dengan membaca syahadatain. Sekaten juga biasanya dilakukan bersamaan dengan acara grebek maulid.
d.      Selikuran
Maksudnya adalah tradisi yang diselenggarakan setiap malam tanggal 21 Ramadhan. Tradisi tersebut masih berjalan dengan baik di Keraton Surakarta dan Yogyakarta. Selikuran berasal dari kata selikur atau dua puluh satu. Perayaan tersebut dalam rangka menyambut datangnya malam Lailatul Qadar, yang menurut ajaran Islam Lailatul Qadar hadir pada 1/3 terakhir bulan Ramadhan.

4.       Apresiasi Terhadap Seni Budaya dan Tradisi Lokal Yang Bernafaskan Islam
Seni budaya dan tradisi lokal yang bernafaskan Islam sangat banyak dan memiliki manfaat terhadap penyebaran agama Islam. Untuk itulah sebagai generasi Islam, maka kita harus mampu mengapresiasikan diri terhadap permasalahan tersebut. Bentuk dari apresiasi terhadap seni budaya dan tradisi tersebut adalah dengan merawat, melestarikan, mengembangkan, simpati dan menghargai secara tulus atas hasil karya para pendahulu.
Pada zaman sekarang, ada sebagian kelompok umat Islam yang mengharamkan dan yang membolehkan seni budaya dan tradisi yang ada. Mereka mengharamkan karena pada zaman Rasulullah saw tidak pernah diajarkan seni dan tradisi tersebut. Yang membolehkan dengan dasar bahwa semua tersebut adalah sebagai sarana dakwah penyebaran agama Islam. Sebagai generasi Islam, kamu harus mampu mensikapi secara bijaksana dan penuh toleransi.
Para ulama’ dan wali pada zaman dahulu bukanlah manusia yang bodoh dan tidak tahu hukum agama. Mereka mampu menerjemahkan pesan Islam ke dalam seni budaya dan tradisi yang ada pada masyarakat Indonesia. Sehingga dengan mudah praktek keagamaan umat Islam dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Untuk itulah perlu adanya pemahaman secara bersama, bahwa seni budaya dan tradisi tidak harus diharamkan secara total karena memang mengandung nilai-nilai keislaman.
Umat Islam adalah umat yang tidak hanya memikirkan urusan akhirat, tetapi juga memikirkan kehidupan dunia. Kehidupan di dunia tidak hanya kebutuhan yang bersifat fisik. Manusia juga membutuhkan sentuhan-sentuhan rohani dan kebutuhan tersebut bisa melalui musik atau seni. Karena seni yang baik mengandung keindahan.
Tradisi lokal juga ada yang baik dan yang buruk. Tradisi yang baik kita pelihara sehingga menjadi warisan budaya nasional. Dan tradisi yang buruk dibuang agar tidak ditiru oleh generasi berikutnya.

   C.      SEJARAH TRADISI ISLAM NUSANTARA
Pada tahun 30 Hijriyah atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman bin Affan r.a mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu 4 tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di  pantai barat Sumatra. Inilah perkenalan pertama penduduk Nusantara dengan Islam. Sejak saat itu, para pelaut dan pedagang muslim terus berdatangan abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.
Lambat laun, penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Samudra Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Samudra Pasai pada tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara muslim dari Maghribi, yang ketika singgah di Aceh (746 H / 1345 M) menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar Mazhab Syafi’i. Adapun peninggalan tertua dari kaum muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, salah satunya makam Fathimah binti Maimun pada makamnya tertulis tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada zaman Kerajaan Singsari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.
Seiring berjalannya waktu, banyak para ulama yang menyebarkan Isalm di Indonesia. Para ulama ini menyebarkan agama Islam dengan berbagai cara, salah satunya melalui bidang kesenian dan akulturasi agar mudah di terima. Karena, sebelum datangnya Islam para penduduk pribumi memeluk agama Hindu-Budha dan kepercayaan animisme dan dinamisme. Dengan menyelipkan ajaran agama Islam pada tradisi yang biasa mereka lakukan, maka akan mempermudah para ulama untuk menyebrkan agama Islam.

1.       Tokoh-Tokoh Islam Di Indonesia Yang Terkemuka
Tokoh-tokoh Islam di Indonesia yang terkemuka, salah satunya yaitu :
a.       Abdur Rauf Singkel dari Aceh
Abdur Rauf Singkel lahir pada tahun 1024 H atau 1615 M, di kota Singkel, Aceh. Nama aslinya Abdur Rauf Al-Fansuri. Ia orang yang pertama mengembangkan Tarekat Satariyah di Indonesia. Karya-karya beliau terdiri dari berbagai bidang ilmu, antara lain ilmu Tafsir, ilmu Hadis, ilmu Fiqih, dan ilmu Tasawuf. Kitab Tafsir yang ada di Indonesia adalah kitab Tafdir hasil karya Abdur Rauf Signkel.
Abdur Rauf Singkel ini adalah seorang ulama yang produktif, yang berperan memberikan penjelasan dan pemahaman mengenai kandungan ayat Al-Qur’an melalui kajian-kajian tafsir dan berperan dalam penyebaran Islam melalui kegiatan Tarekat Satariyah. Hasil karya Abdur Rauf Singkel yang berupa tulisan berjumlah lebih dari 21 buah, terdiri dari kitab tafsir, Hadis, Fiqih, Tasawuf dan lainnya. Kitab Tafsir  berbahasa melayu yang pertama ada di Indonesia merupakan buah karyanya , yaitu Kitab Tarjuman Al-Mustafid (terjemahan pemberi faedah), dan lain-lain.  Karyanya dibidang Tasawuf diantaranya Umdat Al-Muhtajin (tiang orang-orang yang memerlukan).
Tarekat Satariyah adalah paham yang menyatakan bahwa satu-satunya wujud hakiki adalah Allah SWT.  Alam ciptaan-Nya adalah wujud bayangan, yakni bayangan dari wujud hakiki. Walaupun wujud Tuhan berbeda dengan wujud bayangan atau alam, terdapat keserupaan antara kedua wujud ini. Tuhan merupakan Tajalli, yaitu penampakkan diri dalam bentuk alam. Tarekat ini bertujuan untuk membangkitkan kesadaran terhadap keberadaan Allah SWT dalam hati manusia. Hal itu dapat dicapai melalui pengalaman beberapa macam zikir.
Abdur Rauf Singkel diangkat menjadi mufti Kerajaan Aceh oleh Sultanah Safiatuddin Tajul Alam. Dengan dukungan Kerajaan, ia berhasil menghapus ajaran Salik Buta. Abdur Rauf Singkel meninggal di Kuala, Aceh dan makamnya berada di kota yang sama. Sebagai tokoh agama, ia mempunyai nama lain yaitu Tengku Syiah Kuala. Nama Syiah Kuala ini diabadikan untuk nama sebuah perguruan tinggi di Banda Aceh, yaitu Universitas Syah Kuala yang berdiri pada tahun 1961.

b.      Syekh Nawawi Al-Bantani
Syekh Nawawi Al-Bantani lahir pada tahun 1230 H/1813 M di Banten, Jawa Barat dan meninggal di Mekah 1314 H/1897 M. Seorang ulama besar, penulis, dan pendidik dari Banten. Nama aslinya adalah Nawawi bin Umar bin Arabi. Dikalangan keluarganya, Syekh Nawawi dikenal dengan sebutan Abdul Mukti.
Pada usia 15 tahun, Syekh Nawawi telah melaksanakan ibadah Haji dan tinggal  di Mekkah lebih dari 3 tahun untik menimba dan memperdalam ilmu agama dari beberapa orang syekh, baik di Mekkah maupun di Madinah.  Setelah pulang dari tanah suci, Syekh Nawawi mengajar di pesantren peninggalan orang tuanya. Namun karena situasi dan kondisi politik yang tidak menguntungkan, ia kembali  ke Mekkah dan bermukim di sana hingga akhir hidupnya.
Syekh Nawawi Al-Bantani sangat berperan dalam menyebarkan Islam di Indonesia, yaitu memberikan penjelasan dan pemahaman mengenai kandungan ayat Al-Qur’an melalui kajian-kajian tafsir dan melalui kegiatan tarekat Satariyah. Syekh Nawawi memiliki beberapa pandangan dan pendirian yang khas, diantaranya dalam menghadapi pemerintah kolonial, ia tidak agresif atau reaksioner. Namun demikian, ia anti bekerja sama dengan pihak kolonial dalam bentuk apapun. Ia lebih suka mengarahkan perhatiannya pada pendidikan, membekali murid-muridnya dengan jiwa-jiwa keagamaan dan sangat menegakan kebenaran.

   D.      SENI BUDAYA LOKAL SEBAGAI BAGIAN DARI TRADISI ISLAM
1.       Pengertian Seni Budaya Lokal
a.       Pengertian Seni
Seni adalah penggunaan imajinasi manusia secara kreatif untuk menikmati kehidupan. Oleh karena itu, bentuk kesenian dapat muncul melalui benda-benda yang digunakan sehari-hari, serta dapat pula melalui benda-benda khusus yang hanya digunakan untuk kepentingan tertentu seperti ritual atau upacara. Seni juga dapat di definisikan sebagai hasil ciptaan manusia yang mengandung unsur indah, lembut, halus serta mempesona.

b.      Pengertian Budaya Lokal dan Cirinya
Budaya lokal adalah budaya asli suatu kelompok masyarakat tertentu. Menurut J.W. Ajawalia, budaya lokal adalah cirri khas budaya sebuah kelompok masyarakat lokal. Misalnya budaya masyarakat pedalaman Sunda (Baduy), dan lain-lain.  Cirri khas budaya tersebut merupakan kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun, meskipun di tengah-tengah perkembangannya mengalami perubahan nilai. Perubahan dimaksud diakibatkan beberapa hal, misalnya percepatan migrasi dan penyebaran media komunikasi secara global, sehingga tidak ada budaya lokal suatu kelompok masyarakat yang masih sedemikian asli atau karena masyarakat sudah tidak memperhatikan lagi pada budaya lokal tersebut.

2.       Seni Budaya Pra-Islam
Produk seni budaya pra-Islam di Nusantara dapat di bedakan dalam kategori kurun waktu, yakni seni budaya yang berasal dari masa prasejarah, masa kontak dengan tradisi besar Hindu, dan seni budaya etnik lokal yang masih ada sampai sekarang, yang diasumsikan berakar jauh ke masa lampau.
        Dari kurun prasejarah, kehidupan seni budaya di tandai oleh pendirian monument-monumen seremonial, baik berukuran kecil, sedang maupun besar, yakni berupa peninggalan yang dibuat dari susunan batu. Salah satu rekayasa arsitektur yang dianggap berasal dari tradisi megalit atau prasejarah adalah pendirian bangunan yang umum disebut dengan teras berundak (teras piramida), seperti terdapat di Gunung Padang (Cianjur dan Sukabumi). Peninggalan sejenis ini ditemukan di berbagai plosok Nusantara. Bangunan teras berundak berasosiasi dengan satu atau beberapa jenis unsur megalit lainnya, seperti menhir, arca batu, altar batu, batu lumpang, dakon batu dan lain-lain. Beberapa batu dari bangunan teras berundak itu diukur/dipahat dengan unsur dekoratif tertentu.
        Seni utama dunia Islam, kaligrafi, mozaik, dan arabesk sampai di Nusantara sebagai unsur seni baru. Pada seni pahat juga tampak variasi dan pembauran antara anasir asing dan lokal, termasuk pra-Islam. Ini tampak pada hasil seni pahat makam dengan kandungan kreativitas lokal (Barus, Limapuluh Kota, Binamu), Hindu (Troloyo, Gresik, Airmata, dan Astatinggi), dan Asing (Pasai, Aceh, Ternate Tidore). Secara tipologis, nisan-nisan makam muslim Nusantara memperlihatkan tipe-tipe Aceh, Demak Troloyo, Bugis Makassar, dan tipe-tipe lokal. 
   E.       PENGARUH TRADISI ISLAM TERHADAP BUDAYA LOKAL
1.       Seni Bangunan
Peninggalan Islam yang berupa fisik adalah arsitektur bangunan atau seni bangunan.  Masjid yang dibangun di Indonesia tidak serta merta melambangkan keislaman. Arsitektur yang digunakan adalah perpaduan antara Islam dan Hindu atau Jawa. Contoh arsitektur bangunan adalah Masjid Agung Demak, makam, dan lain-lain.

2.       Seni Rupa
Dengan datangnya agama Islam di Nusantara ternyata membawa pengaruh juga terhadap budaya lokal, salah satunya terhadap seni rupa.  Seni ukir. Ajaran agama Islam melarang berkreasi makhluk bernyawa ke dalam seni. Larangan di pegang para penyebar Islam Indonesia. Sebagai pengganti kreativitas, mereka aktif membuat kaligrafi serta ukiran tersamar. Misalnya bentuk dedaunan, bunga, bukit-bukit, karang, pemandangan, serta garis-garis geometris. Termasuk ke dalamnya pembuatan kaligrafi huruf Arab.

3.       Aksara dan Seni Sastra
Dalam perkembangannya, Bahasa Arab di gunakan juga oleh para muslim non-Arab dalam berbagai kegiatan agama, terutama shalat dan mengaji. Penggunaan huruf Arab  di Indonesia pertama kali terlihat pada batu nisan di Leran Gresik, yang diduga makam salah seorang bangsawan Majapahit yang telah masuk Islam. Dalam perkembangan selanjutnya, pengaruh huruf dan Bahasa Arab terlihat pada karya-karya satra di wilayah-wilayah yang keIslamanya lumayan kuat, seperti di Sumatra, Sulawesi, Makassar dan Jawa. Penulisan huruf Arab berkembang pesat ketika karya-karya yang bercorak Hindu-Budha diusupi unsur-unsur Islam. Huruf yang lebih banyak dipergunakan adalah aksara Arab gundul (pegon).
Seni sastra. Seperti India, Islam pun memberi pengaruh terhadap sastra Nusantara. Sastra bermuatan Islam terutama berkembang di sekitar Selat Malaka dan Jawa. Sastrawan Islam melakukan gubahan baru atas Mahabrata, Ramayana dan Pancatantra. Hasil gubahan misalnya Hikayat Pandawa Lima, Hikayat Perang Pandawa Jawa, Hikayat Seri Rama, dan lain-lain.



4.       Sistem Pemerintahan
Dalam pemerintahan juga terdapat akulturasi antara kebudayaan Islam dan kebudayaan pra-Islam. Bentuk akulturasi tersebut terlihat dalam penyebutan nama raja dan sistem pengangkatan raja.
a.       Penyebutan Nama Raja
Masuknya Islam menimbulkan perubahan dalam penyebutan raja. Penguasa suatu negeri pada masa pra-Islam disebut sebagai raja, akan tetapi dengan masuknya Islam dipanggil Sultan, Sunan, Susuhunan, Panembahan dan Maulana. Nama raja juga disesuaikan dengan nama Islam (Arab).
b.      Sistem Pengangkatan Raja
Walaupun Islam telah masuk, akan tetapi dalam pengangkatan seorang raja, cara lama tidak ditinggalkan. Sebagai contoh adalah di Kesultanan Aceh. Di Kesultanan Aceh pengangkatan raja diatur dalam permufakatan dengan hokum adapt. Tata caranya adalah berdiri di atas tabal, kemudian disertai ulama sambil membawa Al-Qur’an berdiri di sebelah kanan, sedangkan perdana menteri membawa pedang berdiri do sebelah kiri.

5.       Sistem Kalender
Sebelum budaya Islam masuk ke Indonesia,masyarakat Indonesia sudah mengenal kalender  Saka. Setelah berkembangnya Islam, Sultan Agung dari Mataram menciptakan kalender Jawa, dengan menggunakan perhitungan peredaran bulan (komariah)seperti tahun hijriyah Islam. Pada kalender Jawa, Sultan Agung melakukan perubahan pada nama-nama bulan, seperti Muharram diganti dengan Syuro, Ramadhan diganti dengan Passa. Sedangkan nama-nama hari tetap menggunakan hari-hari sesuai denghan  bahasa Arab.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar